"Standard Deviation (SD) memang merupakan cerminan dari rata-rata penyimpangan data dari mean. SD dapat menggambarkan seberapa jauh bervariasinya data. Jika nilai SD jauh lebih besar dibandingkan nilai mean, maka nilai mean merupakan representasi yang buruk dari keseluruhan data. Sedangkan jika nilai SD sangat kecil dibandingkan nilai mean, maka nilai mean dapat digunakan sebagai representasi dari keseluruhan data".
"dari hasil perhitungan statistik terhadap sekelompok data diketahui bahwa 96.5% nilai-nilai dari
sekelompok data yang di amati akan berada pada range perhitungan dengan Standard
Deviation 2. Jadi itulah alasan mengapa kita akan menggunakan BB untuk penentu batas-batas
pergerakan harga, karena dengan defenisi ini dapat kita simpulkan bahwa ketika harga
menyentuh level BB Upper line atau BB Lower line maka hal tersebut mengindikasikan bahwa
(kemungkinan) pergerakan harga akan berbalik."
Nah, berangkat dari konsep ini mari kita lihat chart EURJPY yang telah kita plot dengan BB 1D tadi.
Bukankah kondisi ini sesuai dengan konsep di atas? Inilah alasan dibalik pertama kali pelajaran BBMA yang diajarkan KG. Karena untuk trader pemula seperti saya, kondisi seperti ini cukup mudah untuk dijadikan pemanasan sebelum menuju ketahap berikutnya. Dan inilah yang dinamakan Golden Rule dari BB dalam kondisi flat yaitu Buy di lower BB acuan dan Sell di Upper BB acuan.
Acuan yang mana? Misal kita mendapati BB 1D dalam kondisi flat seperti di atas maka kita bisa melakukan OP Buy di lower BB 1D ini (SD-2) atau Sell di Upper BBnya (SD+2). Sekarang bagaimana jika ternyata yang flat adalah BB 1W apakah rule tersebut bisa berlaku? Jawabnya adalah ya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar